Ada banyak jenis cyber crime yang dapat mengancam bisnis, mulai dari pencurian data, peretasan sistem, hingga serangan ransomware yang mampu melumpuhkan operasional. Kondisi keamanan siber di Indonesia pun menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, sepanjang Januari hingga Agustus 2024, terdapat 122,79 juta anomali trafik internet di tanah air. Anomali ini mencakup beragam aktivitas mencurigakan, seperti penyebaran malware, pergerakan trojan, hingga upaya akses tidak sah ke sistem informasi.
Fakta ini menjadi peringatan bahwa potensi risiko serangan terhadap infrastruktur digital di Indonesia masih sangat tinggi. Bagi pelaku bisnis, memahami berbagai jenis cyber crime bukan lagi pilihan, melainkan langkah krusial untuk menjaga keberlangsungan usaha di era digital. Agar Anda dapat lebih waspada, berikut jenis cyber crime yang dapat mengancam bisnis Anda.
Table of Contents
Daftar Jenis Cyber Crime
1. Serangan DDoS
Meskipun DDoS merupakan jenis cyber crime lama, namun masih banyak perusahaan yang mengalami kesulitan untuk melindungi sistem mereka. DDoS akan membuat lalu lintas server menjadi penuh, sehingga web Anda tidak bisa diakses lagi. Jika hal ini terjadi, maka Anda dapat kehilangan penghasilan, karena pelanggan tidak bisa mengakses web Anda dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Modus serangan ini juga dapat dilakukan oleh pesaing bisnis Anda yang dengan sengaja ingin membuat bisnis Anda tumbang.
2. Ransomware
Ransomware merupakan sejenis malware yang dapat mengambil alih komputer dan mencegah penggunanya untuk mengakses data sampai tebusan dibayarkan. Melalui ransomware, hacker akan mengenkripsi data di dalam komputer dan menggunakan kunci enkripsi yang hanya diketahui oleh hacker. Jika Anda tidak membayarkan tebusan yang diminta, maka data-data yang Anda miliki akan dihapus secara permanen oleh hacker tersebut. Pada umumnya, hacker lebih senang menyerang bisnis dan lembaga pemerintahan karena dua target ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk membayar tebusan.
3. Email Attack
Melihat perusahaan yang sering menggunakan email untuk menjalankan bisnisnya, maka hacker juga akan menyerang melalui email. Teknik email attack ini juga dikenal dengan istilah phising. Email attack juga termasuk teknik lama, namun masih menjadi salah satu teknik cyber crime yang akan selalu menimbulkan korban. Hacker akan mengirimkan email palsu yang berisi link mencurigakan untuk mencuri berbagai informasi penting seperti user id dan password. Jika hacker mendapatkan data tersebut, hacker dapat mengambil alih akun Anda dan melakukan beragam tindakan yang dapat merugikan perusahaan Anda.
4. Data Breach
Data breach dapat mengakibatkan dicurinya sejumlah data pribadi serta data sensitif bagi kelangsungan bisnis Anda. Cyber crime ini tidak hanya akan merugikan bisnis, namun juga setiap orang yang data pribadinya telah dicuri. Kebocoran data dapat terjadi ketika hacker mengetahui kelemahan keamanan perusahaan baik dari sisi sumber daya manusia, sistem, atau pun jaringan yang digunakan. Dari kelemahan yang ditemukan, hacker akan menyusup masuk ke dalam sistem, kemudian mengekstraksi informasi sensitif di dalamnya. Jika hal ini terjadi, Anda tidak hanya akan kecurian data penting namun juga bisa mengalami tuntutan pelanggan karena data sensitif pelanggan yang berhasil dicuri oleh hacker.
5. Phishing
Phishing adalah jenis cyber crime yang memanfaatkan tipu daya untuk mencuri informasi sensitif seperti username, password, atau data keuangan. Modusnya dengan menyamar sebagai pihak terpercaya melalui email, SMS, atau pesan instan. Pesan biasanya berisi tautan atau file berbahaya yang, jika diklik, akan membawa korban ke situs palsu atau mengunduh malware secara otomatis ke perangkat korban.
6. Spear Phishing
Berbeda dengan phishing biasa, spear phishing bersifat lebih spesifik dan terarah. Penyerang melakukan riset terlebih dahulu, kemudian mengirimkan pesan yang sangat personal kepada target tertentu. Karena lebih meyakinkan, serangan ini sering berhasil membobol keamanan bisnis.
7. Business Email Compromise (BEC)
Jenis cyber crime ini menargetkan sistem email perusahaan. Pelaku menyamar sebagai pimpinan atau mitra bisnis, lalu mengarahkan karyawan untuk mentransfer dana atau mengirim data penting. Kerugian dari BEC bisa mencapai miliaran rupiah dalam hitungan menit.
8. Social Engineering
Social engineering adalah seni manipulasi psikologis untuk membuat korban membocorkan informasi atau memberikan akses yang tidak semestinya. Serangan ini memanfaatkan rasa percaya, kepanikan, atau rasa ingin membantu korban.
9. Malware
Malware adalah istilah umum untuk perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk merusak, mencuri, atau mengganggu sistem komputer. Bentuknya beragam, mulai dari virus, worm, trojan, hingga ransomware.
10. Ransomware
Salah satu jenis cyber crime yang paling menakutkan bagi bisnis. Ransomware akan mengenkripsi data korban lalu menuntut tebusan (ransom) agar data dapat dipulihkan. Banyak perusahaan yang terpaksa membayar karena tidak memiliki backup yang memadai.
Baca Juga: 8 Hacker Terkenal di Dunia dengan Serangan Berbahaya

11. Spyware
Spyware bekerja secara diam-diam untuk memantau aktivitas korban. Informasi yang dicuri bisa berupa data login, riwayat browsing, hingga isi email, lalu dikirim ke pihak ketiga.
12. Trojan Horse
Trojan adalah malware yang menyamar sebagai aplikasi sah, tetapi di baliknya tersembunyi kode berbahaya. Begitu diinstal, trojan dapat memberikan akses penuh kepada penyerang.
13. Worms
Worms adalah malware yang dapat menyebar otomatis dari satu perangkat ke perangkat lain melalui jaringan. Serangan ini sering memperlambat jaringan dan menginfeksi ribuan perangkat sekaligus.
14. SQL Injection
SQL Injection adalah jenis cyber crime yang memanfaatkan celah pada aplikasi berbasis database. Pelaku dapat membaca, mengubah, atau menghapus data tanpa izin, bahkan mengambil alih kontrol server.
15. Cross-Site Scripting (XSS)
Serangan XSS menanamkan skrip berbahaya ke situs web, sehingga ketika pengunjung membuka halaman tersebut, skrip akan dijalankan di browser mereka. Ini bisa mencuri cookie, data sesi, atau informasi pribadi.
16. Remote Code Execution (RCE)
Dengan RCE, penyerang dapat menjalankan kode berbahaya di server atau perangkat korban dari jarak jauh. Serangan ini biasanya memanfaatkan celah keamanan yang belum ditambal.
17. Man-in-the-Middle (MITM)
Dalam serangan MITM, penyerang memposisikan diri di antara dua pihak yang berkomunikasi, lalu menyadap atau memanipulasi data yang dikirim. Target umumnya adalah transaksi online atau komunikasi sensitif.
18. Credential Stuffing
Jenis cyber crime ini menggunakan data login hasil kebocoran sebelumnya untuk mencoba masuk ke akun lain. Pelaku memanfaatkan kebiasaan orang menggunakan password yang sama di banyak platform.
19. Brute Force Attack
Metode ini mencoba semua kemungkinan kombinasi password hingga menemukan yang benar. Meski sederhana, serangan ini efektif jika target menggunakan password lemah.
Baca Juga: Memahami OWASP Top 10, Standar Keamanan Website Dunia
20. Password Spraying
Berbeda dengan brute force, password spraying mencoba sejumlah kecil password umum terhadap banyak akun sekaligus untuk menghindari deteksi. Jenis cyber crime ini memanfaatkan fakta bahwa banyak pengguna masih memakai kata sandi lemah atau berulang di berbagai layanan.
21. Zero-Day Exploit
Zero-day exploit memanfaatkan celah keamanan yang belum diketahui oleh pengembang. Karena belum ada perbaikan resmi, serangan ini sangat berbahaya.
22. Supply Chain Attack
Penyerang menyusup melalui pihak ketiga atau pemasok yang memiliki akses ke sistem target utama. Serangan ini sulit dideteksi karena terjadi lewat jalur terpercaya.
23. Insider Threat
Ancaman dari orang dalam organisasi. Contohnya seperti karyawan atau mantan karyawan, yang menyalahgunakan aksesnya untuk merugikan perusahaan.
24. Cryptojacking
Pelaku menggunakan perangkat korban untuk menambang cryptocurrency tanpa izin. Dampaknya adalah performa sistem menurun dan tagihan listrik meningkat.
25. Defacement
Perubahan tampilan situs web oleh peretas untuk menampilkan pesan tertentu, biasanya bernuansa politik, protes, atau propaganda. Aksi ini umumnya bertujuan merusak reputasi dan kredibilitas pemilik situs di mata publik.
26. IoT Attacks
Jenis cyber crime yang menargetkan perangkat Internet of Things (IoT). Contohnya seperti CCTV, printer, atau perangkat rumah pintar yang sering memiliki keamanan rendah.
27. ATM Skimming dan POS Malware
Serangan yang mencuri data kartu pembayaran melalui alat skimming atau malware di mesin ATM dan terminal Point-of-Sale. Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk transaksi ilegal atau pembuatan kartu palsu.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi beragam jenis cyber crime di atas, bisnis perlu mengadopsi strategi keamanan siber yang proaktif. Salah satunya adalah dengan melakukan penetration testing di Indonesia yang sesuai standar industri untuk mengidentifikasi celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh penyerang.
Menggunakan beragam metode pentest seperti black box, white box, maupun grey box, perusahaan dapat memperoleh gambaran menyeluruh tentang tingkat keamanan sistem mereka. Untuk memastikan hasil yang akurat dan rekomendasi yang dapat diimplementasikan, sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa pentest profesional yang memiliki pengalaman luas dan pemahaman mendalam terhadap lanskap ancaman siber lokal maupun global.
Salah satu penyedia terpercaya adalah LOGIQUE. Kami menyediakan jasa pentest dengan dukungan tim pentester bersertifikasi internasional yang menguasai berbagai metode pentest terkini, mulai dari pengujian aplikasi web, mobile, infrastruktur jaringan, hingga cloud security. Dengan pendekatan yang sistematis dan laporan yang mudah dipahami, kami membantu perusahaan mengidentifikasi celah keamanan, meminimalkan risiko, dan memperkuat pertahanan digital mereka. Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan solusi keamanan siber yang tepat dan komprehensif bagi bisnis Anda.
