Pernah dengar tim IT ngomongin “utang teknis” atau technical debt?
Kedengarannya ribet, ya?
Tapi, kalau kita cuekin, “utang” yang satu ini bisa diam-diam menggerogoti kesehatan aplikasi bahkan bisnis kita.
Gampangnya gini deh. Bayangin kita mau bangun ruko biar cepat jadi dan bisa langsung disewakan. Demi ngejar waktu, kita pakai material seadanya dan pondasinya nggak kita cek betul-betul.
Rukonya memang jadi cepat, uang sewa pun masuk. Tapi setahun kemudian, tembok mulai retak, atap bocor di mana-mana. Ujung-ujungnya, biaya perbaikannya jauh lebih mahal daripada kalau kita bangun dengan benar dari awal.
Nah, itulah utang teknis. “Jalan pintas” yang diambil tim developer hari ini akan menjadi “biaya perbaikan” yang mahal di kemudian hari.
Apa Itu Utang Teknis?
Utang Teknis adalah ‘utang’ yang muncul ketika developer memprioritaskan proses rilis sebuah proyek (telah berfungsi sebagian besar) daripada menyempurnakan proses coding-nya.
Game Plan Kita: Bagaimana Tim Mengelola Technical Debt
Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun. Utang teknis kadang tak terhindarkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya secara sadar sebagai sebuah tim.
Mulai sekarang, ini adalah pendekatan yang tim logique akan lakukan:
1. Identifikasi dan Beri Label dengan Jelas
Setiap kali kamu menemukan atau (terpaksa) membuat utang teknis, beri tanda.
- Di Kode: Tinggalkan komentar
// TODO: Refactor [alasan] #tech-debt.
Ini akan membantu kita melacaknya. - Di Tiket/Task: Jika sebuah task menghasilkan utang, tulis di deskripsi atau komentar. Jika kamu menemukan utang saat mengerjakan tugas lain, buatkan tiket baru di backlog dengan label
tech-debt.
2. Komunikasikan Trade-off, Bukan Mengeluh
Saat Product Manager (PM) meminta fitur dikebut, jangan hanya bilang “nggak bisa” atau “susah”. Sajikan pilihan yang jelas.
- Gunakan kalimat ini: “Oke, permintaan ini bisa kita kerjakan dalam 3 hari dengan mengambil jalan pintas A, tapi konsekuensinya adalah proses X akan jadi lebih lambat di masa depan. Cara yang benarnya butuh 1 minggu, tapi akan membuat sistem lebih sehat. Mana yang jadi prioritas kita saat ini?”
- Ini mengubah posisi kita dari “penghambat” menjadi “partner strategis” yang membantu PM membuat keputusan yang lebih baik.
3. Terapkan (The Boy Scout Rule)
Buat yang asing terkait ini bisa di google saja ya the boy scout rule in software development. tapi
Prinsipnya sederhana: “Selalu buat kode sedikit lebih bersih dari pada saat kamu tiba di campground.” Jika kamu sedang mengerjakan sebuah file dan melihat ada nama variabel yang aneh, atau fungsi yang bisa dibuat lebih simpel, perbaiki sekalian! Tidak perlu refactoring besar. Perbaikan-perbaikan kecil yang konsisten akan berdampak besar.
4. Manfaatkan Sesi Code Review (CR)
Code review bukan hanya untuk mencari bug. Ini adalah garis pertahanan utama kita melawan technical debt baru. Tanyakan saat CR: “Apakah kode ini akan lebih sulit dipahami 6 bulan dari sekarang?”, “Apakah ada test case yang kurang?”, “Bisakah ini dibuat lebih sederhana?”.
5. Alokasi Waktu Terencana
kita akan secara rutin mengalokasikan sekitar 10-20% dari kapasitas setiap sprint untuk mengerjakan tiket berlabel tech-debt. Ini bukan waktu “bonus”, ini adalah bagian inti dari pekerjaan kita, sama pentingnya dengan membangun fitur baru.
Tanggung Jawab Kita Bersama
Mengelola utang teknis adalah tanggung jawab kolektif. Ini tentang membangun lingkungan kerja di mana kita semua bisa bangga dengan hasil karya kita, bisa tidur nyenyak di malam hari, dan bisa fokus pada tantangan yang lebih menarik.
Mari kita bangun software yang hebat, dengan cara yang benar, bersama-sama.

