Mengenal Behavioral Event Interview, Teknik Interview para Recruiter

Sumber: www.unsplash.com

Behavioral Event Interview adalah teknik wawancara yang meminta kandidat untuk menggambarkan pengalaman yang mereka miliki di pekerjaan sebelumnya. Bagaimana cara melakukan teknik wawancara ini? Simak penjelasan kami berikut.

Dalam proses rekrutmen, wawancara merupakan proses yang penting. Pada tahap ini, recruiter (pewawancara) dan kandidat (pencari kerja) akan berinteraksi secara langsung dan melakukan tanya jawab.

Secara garis besar, proses wawancara ditujukan untuk bisa menggali informasi tentang profil kandidat secara lebih mendalam. Dengan demikian, recruiter dapat mengetahui apakah kandidat tersebut sesuai untuk mengisi posisi / lowongan yang dibutuhkan.  

Saat melakukan wawancara, terdapat berbagai teknik yang bisa digunakan oleh recruiter, salah satunya adalah Behavioral Event Interview (BEI). Teknik ini cukup populer karena mampu memprediksi kinerja kandidat di masa depan. 

Sejarah Teknik Behavioral Event Interview

Behavioral Event Interview pertama kali diperkenalkan oleh Bill Byham dan David McClelland pada tahun 1970-an. Teknik ini dikenal sebagai Targeted Selection Interview, dimana wawancara dilakukan dengan fokus terhadap bukti perilaku untuk memprediksikan kinerja dari seorang kandidat di masa mendatang. 

Istilah Targeted Selection kemudian menjadi lebih dikenal sebagai Behavior Event Interview dan saat ini sudah digunakan oleh recruiter di berbagai perusahaan. Dengan teknik wawancara ini, para kandidat dapat bercerita mengenai tindakan dan pengalamannya di masa lalu. Dari informasi tersebut, Anda dapat menggali profil, karakter, dan kemampuan kandidat dan memastikan apakah mereka sesuai dengan posisi yang dibutuhkan perusahaan. Jadi, apa itu Behavioral Event Interview? Silakan simak penjelasan kami di bawah ini.

Pengertian Behavioral Event Interview (BEI)

Behavioral Event Interview adalah metode/teknik wawancara yang terstruktur untuk mengumpulkan informasi tentang pengalaman bekerja kandidat serta digunakan sebagai sarana untuk memprediksi kinerja kandidat di masa depan. Umumnya proses interview BEI akan memakan waktu sekitar 60 sampai 90 menit.

Saat menggunakan teknik BEI, recruiter akan menggali pengalaman kinerja kandidat di perusahaan-perusahaan sebelumnya. Mereka akan menanyakan tentang pencapaian atau keberhasilan kandidat di masa lalu, apa ada kegagalan yang pernah dialami sebelumnya serta bagaimana cara menyikapi kegagalan tersebut. 

Prinsip dasar dari pendekatan wawancara ini adalah karena apa yang orang pikirkan atau katakan tentang keterampilan mereka tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Oleh karena itulah, untuk bisa mendapat jawaban yang bisa dipercaya maka recruiter perlu menanyakan pengalaman yang sudah kandidat lakukan dan hadapi secara langsung. 

Dasar pertanyaan yang umumnya digunakan adalah “what you did in” dan bukan “what if question”. Sebagai contoh, recruiter akan mengajukan pertanyaan sebagai berikut “Ceritakan pengalaman Anda saat melakukan kesalahan di perusahaan sebelumnya dan bagaimana cara Anda  memperbaikinya” atau contoh lain “Bisakah Anda memberi saya contoh bagaimana Anda berkontribusi pada tim atau perusahaan sebelumnya?”

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan oleh recruiter sebagai indikator perilaku kandidat di masa depan. Jadi dari cerita pengalaman kandidat di masa lalu dapat memberi gambaran tentang bagaimana kinerja kandidat saat mereka dipekerjakan di perusahaan Anda.

Mengapa Teknik Behavioral Event Interview perlu dilakukan?

Ada beberapa alasan mengapa teknik BEI populer digunakan oleh para recruiter. Beberapa diantaranya seperti:

1. Mempelajari soft skill kandidat

Melalui CV atau resume, recruiter dapat dengan mudah mengetahui keterampilan (hard skill), riwayat pendidikan, atau informasi kursus yang pernah kandidat ikuti. Namun untuk mengetahui softskill kandidat seperti bagaimana kemampuan kandidat dalam menghadapi tugas dan tantangan sehari-hari membutuhkan pendekatan tersendiri.

Oleh karena itulah, teknik BEI ini diperlukan. Anda dapat mempelajari berbagai hal dari proses interview ini. Beberapa diantaranya seperti gaya berpikir, motivasi, tendensi, preferensi kandidat, serta cara mereka menangani sebuah permasalahan saat mereka bekerja.

2. Untuk memprediksi perilaku kandidat di masa depan

Daripada Anda menanyakan hal-hal umum seperti “Apa kekuatan dan kelemahan Anda?” atau “Bagaimana Anda mendefinisikan kesuksesan?”, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan teknik BEI jauh lebih efektif untuk mengenali profil kandidat.

Selain itu, mengetahui perilaku kandidat di masa lalu juga menjadi teknik yang akurat untuk menggambarkan kinerja atau keberhasilan kandidat di masa depan. Dengan demikian, Anda dapat lebih mudah untuk menentukan apakah kandidat yang mereka wawancara sesuai dengan budaya perusahaan serta posisi yang sedang dibutuhkan.

3.  Menghindari keputusan yang salah 

Tim recruiter sudah melakukan wawancara berkali-kali sehingga tidak jarang menggunakan instinct-nya saat membuat keputusan. Meskipun hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun alangkah lebih baik jika recruiter tidak menjadikan instinct-nya sebagai satu-satunya faktor saat memilih seorang kandidat

Untuk menghindari keputusan yang salah karena hanya berdasarkan firasat, recruiter dapat melakukan metode BEI ini. Saat proses wawancara, banyak kandidat yang terlihat cerdas, namun saat Anda menggali pengalaman mereka, maka Anda mungkin akan menemukan informasi bahwa mereka memiliki gesekan dengan rekan kerja sebelumnya atau mungkin tidak memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Pertanyaan wawancara BEI inilah yang akan membantu Anda mengungkap pola kerja mereka sebelumnya dan mencegah Anda membuat keputusan yang salah.

Baca Juga: 5 Jenis Flexible Work Arrangement yang Bisa Diterapkan di Perusahaan

Bagaimana Cara Melakukan Behavioral Event Interview?

Para recruiter di berbagai perusahaan saat ini umum menggunakan Behavioral Event Interview atau BEI ketika melakukan proses wawancara dengan kandidat. Jika Anda belum pernah menggunakan teknik ini dan ingin mulai mengaplikasikannya dalam proses wawancara, berikut adalah tiga langkah sederhana yang perlu Anda lakukan:

1. Identifikasi keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan kandidat

Point ini jauh lebih mendalam dari sekadar membaca deskripsi atau kualifikasi suatu pekerjaan. Jadi, Anda perlu berbicara dan berdiskusi dengan orang-orang yang sudah sukses dalam menjalankan peran tersebut. 

Jika Anda ingin mewawancarai kandidat untuk posisi front end developer (FE), maka Anda bisa berdiskusi dengan lead tim FE. Tanyakan apa saja kualifikasi keterampilan FE yang dibutuhkan. Tanyakan juga peran, soft skill, atau pengalaman-pengalaman tertentu yang dibutuhkan oleh kandidat. Hal ini perlu Anda lakukan untuk menghasilkan daftar sifat tertentu sehingga recruiter dapat mengetahui skill dan karakter kandidat seperti apa yang paling cocok untuk posisi tersebut.

2. Kembangkan pertanyaan Behavioral Event Interview

Setelah Anda memiliki daftar kriteria yang dibutuhkan untuk suatu posisi, maka Anda dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan daftar pertanyaan. Buatlah daftar pertanyaan yang mampu mendorong kandidat untuk bisa menjelaskan dan mendemonstrasikan setiap keterampilan yang mereka miliki di perusahaan sebelumnya.

Sebagai contoh, jika mampu berkomunikasi dengan pelanggan adalah merupakan keterampilan penting yang diperlukan untuk posisi tersebut, maka mintalah kandidat untuk menggambarkan saat mereka berhasil mengelola pelanggan penting dengan tuntutan SOP perusahaan yang signifikan. Contoh pertanyaan yang bisa Anda ajukan seperti “Apakah Anda pernah menghandle pelanggan yang marah atau tidak puas dengan layanan di perusahaan Anda sebelumnya? Apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya?”

3. Evaluasi jawaban kandidat dengan hati

Setelah mengajukan pertanyaan, Anda dapat mengevaluasi jawaban wawancara yang sudah Anda peroleh. Jawaban tersebut harus bisa menjelaskan situasi menantang yang pernah dialami kandidat, serta tindakan yang mereka ambil untuk mencapai hasil akhir yang sukses. Namun jika dari pertanyaan yang Anda ajukan belum bisa mengambil kesimpulan tersebut, maka Anda masih perlu mengajukan beberapa pertanyaan lain. 

Baca Juga: Jenis Shift Kerja dan Penghitungannya Menurut Undang-Undang

Kelebihan dan Kekurangan dari Teknik Behavioral Event Interview

Kelebihan

Salah satu kelebihan utama dari teknik ini adalah menghadirkan kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kandidat. Pertanyaan yang diajukan akan mendorong kandidat untuk berbicara mengenai pencapaian, keputusan, dan berbagai pengalaman yang relevan dengan posisi yang mereka lamar. Dari pengalaman yang disampaikan, Anda dapat menggunakannya sebagai sebagai bahan acuan untuk menilai kemampuan kandidat di masa depan.

Kekurangan

Karena proses interview ini ditujukan untuk menggali profil kandidat secara mendalam maka proses wawancara kemungkinan besar akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, terkadang kandiat tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan karena mereka belum memiliki banyak pengalaman atau masih fresh graduate. Jadi, Anda perlu menyediakan pertanyaan cadangan yang mampu memberikan jawaban serupa.

Kesimpulan

Dengan mengadopsi teknik BEI, Anda dapat memperoleh informasi mendalam mengenai keterampilan seorang kandidat. Tim recruitment atau tim HRD memang memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengelola karyawannya. Mereka harus bisa memastikan bahwa karyawan yang diterima di perusahaan adalah orang yang sesuai dan mampu membawa dampak positif bagi perusahaan.

Untuk pengelolaan karyawan yang mudah dan efisien, LOGIQUE menawarkan aplikasi absensi online bernama Dokodemo-Kerja untuk para HR profesional di Indonesia. Aplikasi ini dilengkapi dengan berbagai fitur untuk mempermudah monitoring produktivitas karyawan bahkan untuk para pekerja remote sekalipun. 

Jika Anda tertarik untuk mencobanya secara GRATIS, silakan coba versi demo dengan cara klik di sini. Informasi lebih lanjut silakan hubungi kami!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts