Apa Itu DevOps? Pengertian, Cara Kerja, dan Manfaat DevOps

Sumber: www.freepik.com

Apa itu DevOps? DevOps adalah gabungan dari Development dan Operations. Kombinasi tersebut dirancang agar dapat meningkatkan kemampuan sebuah perusahaan untuk proses delivery aplikasi dengan kecepatan tinggi.

Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak perusahaan-perusahaan raksasa seperti Amazon, Walmart, ataupun Google yang memilih menggunakan solusi DevOps agar proses delivery produk dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Selain itu, solusi DevOps juga telah terbukti dapat memberikan berbagai keuntungan seperti mampu menghasilkan kolaborasi tim yang lebih baik, mempertahankan kualitas produk, dan masih banyak lagi.

Meskipun sekarang solusi DevOps sudah semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan besar, namun pada kenyataannya sampai saat ini masih banyak orang yang mengalami kebingungan dan belum memahami apa itu DevOps. Beberapa orang beranggapan bahwa DevOps adalah sebuah budaya, pendekatan, atau filosofi. Sedangkan sebagian orang yang lain beranggapan bahwa DevOps adalah sebuah metodologi.

Jadi sebenarnya apa itu DevOps? Berikut kami sediakan penjelasannya untuk Anda.

Apa Itu DevOps?

DevOps adalah kombinasi dari culture, praktik, dan alat untuk meningkatkan kemampuan sebuah perusahaan agar proses delivery aplikasi / software dapat dilakukan dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada proses pengembangan software tradisional.

Sesuai dengan namanya, istilah DevOps adalah gabungan dari kata Development dan Operations. Jadi secara garis besar metodologi DevOps akan menguraikan proses pengembangan aplikasi atau perangkat lunak yang berkualitas tinggi dengan mengotomatiskan dan mengintegrasikan efforts dari tim Development (pengembang) dan tim IT Operations (operasi). Di bawah model DevOps ini, tim developer dan IT operations akan bekerja bersama di seluruh tahapan software development life cycle untuk menghasilkan produk digital yang berkualitas secara efektif dan efisien.

Mungkin saat ini Anda bertanya-tanya, lalu apa itu DevOps engineer? Pada dasarnya, DevOps engineer adalah profesional IT yang bekerja  dengan software developers, system operators, staff IT operations staff, dan lain-lain untuk mengawasi atau memfasilitasi penerapan kode berdasarkan continuous integration dan continuous delivery workflow (CI/CD).

Baca Juga: Tools Apa Saja yang Harus Dikuasai DevOps Engineer ?

Mengapa DevOps dibutuhkan dalam proses pengembangan software?

Setelah Anda memahami apa itu DevOps, mungkin Anda akan bertanya-tanya apa fungsi DevOps ini. Perlu Anda tahu, dalam proses pengembangan produk, klien biasanya menginginkan agar proses delivery produk dapat dilakukan dengan cepat. Klien juga berharap agar produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang baik serta mampu bekerja dengan stabil.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, tim developer dapat bekerja dengan cepat dalam proses pengembangan produk. Namun di sisi lain, tim operations memahami bahwa perubahan atau pengembangan yang dilakukan dengan cepat tanpa pengamanan yang tepat dapat membuat sistem menjadi tidak stabil.

Oleh karena itulah, DevOps dirancang untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan cara mengintegrasikan semua orang yang terkait dengan software development dan deployment baik itu business users, developers, test engineers, security engineers, system administrators, dan lain-lain. Tim ini akan bekerja sama untuk mencapai tujuan dan fokus utama yaitu delivery produk / software berkualitas tinggi yang dapat  memenuhi semua user requirements namun tetap mampu menjaga integritas dan stabilitas seluruh sistem.

Jika dilakukan dengan baik, DevOps dapat memberi berbagai manfaat dam proses pengembangan produk. Beberapa diantaranya seperti:

  • Perusahaan dapat bergerak dengan cepat

Praktik DevOps memungkinkan Anda untuk dapat bergerak cepat dalam berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan pasar. Dengan demikian, praktik ini mampu mendorong bisnis agar bisa berkembang dengan cepat.

  • Delivery yang cepat

Praktik DevOps dapat membantu Anda untuk dapat merilis produk dengan waktu yang lebih cepat. Dengan cara ini, Anda memiliki peluang untuk bisa lebih unggul dari kompetitor Anda.

  • Keandalan

DevOps bekerja seperti pada praktik CI/CD (Continuous Integration / Continuous Delivery) yang dapat membantu Anda memastikan bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang tinggi. Di sisi lain, Anda juga dapat mengirim produk yang andal dengan kecepatan tinggi. 

  • Kolaborasi tim yang lebih baik

Di bawah model DevOps, tim pengembang dan tim operasi akan berkolaborasi, berbagi tanggung jawab, dan menggabungkan alur kerja mereka. Cara ini dapat membantu Anda untuk bekerja secara efektif dan efisien.

  • Aman

Anda dapat mengadopsi model DevOps tanpa perlu mengorbankan keamanan dengan menggunakan alat pengujian keamanan terintegrasi dan otomatis.

Fase DevOps Pipeline: Bagaimana Cara DevOps Bekerja?

Pipeline DevOps adalah sekumpulan proses yang memungkinkan tim developer dan tim IT operations dapat bekerja sama untuk membangun dan menerapkan kode ke production environment. Meskipun setiap perusahaan yang menjalankan model DevOps ini dapat bekerja dengan proses yang berbeda-beda, namun secara garis besar mereka akan mengikuti fase DevOps pipeline berikut:

1. Plan

Fase ini melibatkan perencanaan untuk seluruh alur kerja yang dibutuhkan sebelum tim pengembang mulai menulis kode. Dalam tahap ini, manajer produk dan manajer proyek akan memainkan peran penting. Mereka akan bekerjasama untuk mengumpulkan requirements dan feedback dari klien ataupun stakeholders. Informasi tersebut kemudian akan dikumpulkan untuk membangun roadmap produk untuk memandu proses pengembangan yang akan dilakukan.

2. Code

Setelah rencana dibuat, tim developer dapat mulai menulis kode yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk. Tim developer biasanya akan menggunakan seperangkat plugin standar yang dipasang di lingkungan pengembangan mereka untuk membantu proses pengembangan, membantu menerapkan gaya kode yang konsisten, serta menghindari kelemahan keamanan umum dan anti-pattern.

apa itu devops
Sumber: blog.isostech.com

3. Build

Setelah tim developer selesai menulis kode yang dibutuhkan, mereka akan memasukan kode tersebut ke dalam shared code repository. Developer akan mengirimkan pull request, setelah developer yang lain akan mereview perubahan yang telah dilakukan. Jika kode tidak memiliki masalah, maka developer tersebut akan menyetujui pull request yang telah dikirim sebelumnya.

4. Test

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian.  Jika ada masalah yang ditemukan pada fase ini, maka masalah tersebut akan dikirim kembali ke tim developer untuk diselesaikan.

5. Release

Fase release menjadi tonggak penting dalam DevOps pipeline. Pada tahap ini, setiap perubahan kode telah melewati serangkaian pengujian dan tim IT operations telah memastikan bahwa masalah yang merusak dan regresi sudah teratasi dengan baik.

6. Deploy

Tahap selanjutnya adalah deployment. Setelah production environment dibuat dan dikonfigurasi maka versi terakhir dari pengembangan yang telah dilakukan akan diterapkan.

7. Monitor

Pada tahap terakhir ini, tim IT operations akan terus bekerja keras untuk memantau infrastruktur, sistem, dan aplikasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa produk atau aplikasi yang dikembangkan dapat berjalan dengan lancar. Mereka juga mengumpulkan data-data penting dari log, analitik, sistem monitoring, serta melihat feedback dari pengguna untuk mengetahui jika ada masalah pada kinerja aplikasi. 

Praktik Terbaik untuk DevOps yang Efektif

Untuk menjalankan DevOps secara efektif terdapat beberapa praktik yang dapat Anda terapkan, yaitu:

1. Continuous Integration

Continuous Integration adalah praktik dalam software development dimana tim developer akan secara rutin menggabungkan pembaruan kode ke dalam central repository. Tujuan utama dari Continuous Integration adalah menemukan dan mengatasi bug lebih cepat, meningkatkan kualitas perangkat lunak, dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk memvalidasi dan merilis pembaruan perangkat lunak yang baru.

2. Continuous Delivery

Continuous Delivery adalah praktik dalam software development yang memastikan bahwa kode selalu dalam status “deployable. Artinya, setiap perubahan yang ada di dalam kode seperti penambahan fitur, perbaikan bug, perubahan konfigurasi, atau yang lain, akan selalu siap untuk diterapkan ke dalam production environment atau bahkan ke tangan user dengan cepat, aman, dan berkelanjutan.

3. Microservices

Microservice adalah gaya arsitektur yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan aplikasi yang kompleks. Implementasi arsitektur ini memungkinkan aplikasi yang sedang dikembangkan menjadi sangat mudah dipelihara dan “testable”.

4. Infrastructure as Code (IaC)

Infrastructure as Code adalah sebuah pendekatan untuk mengelola data center server, storage, dan infrastruktur jaringan. IaC digunakan untuk menyederhanakan konfigurasi dan manajemen skala besar secara signifikan.

5. Monitoring dan logging

Monitoring dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah dengan cepat sehingga dapat mencegah munculnya masalah lain yang lebih besar. Dengan cara ini, tim mampu mengukur kinerja aplikasi/ software dan memastikan sistem tetap bekerja secara stabil.

Selain itu, tim juga akan menganalisis log yang dihasilkan oleh aplikasi. Dengan demikian, tim DevOps dapat lebih memahami bagaimana perubahan atau pembaruan perangkat lunak yang telah dilakukan dapat memengaruhi user. 

Baca Juga: Agile vs DevOps vs CI/CD: Apa Saja Perbedaanya?

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, Anda dapat lebih memahami apa itu DevOps. Pada dasarnya DevOps adalah strategi untuk pengembangan software yang mendorong kerjasama yang erat antara tim software developer dengan dan tim IT operations. Dengan cara ini, perusahaan dapat menyelaraskan orang-orang, proses, dan alat yang digunakan dalam pengembangan software untuk mencapai kepuasan pelanggan.

Apabila Anda membutuhkan tim pengembangan produk digital yang profesional, Anda dapat menggunakan layanan web atau mobile development dari LOGIQUE. Selain memiliki banyak pengalaman dalam pengembangan software, kami juga berpengalaman dalam manajemen proyek. Sampai saat ini, LOGIQUE sudah banyak membantu berbagai jenis bisnis dalam mengelola proyek digital mereka.

Anda juga dapat menggunakan layanan DevOps dari LOGIQUE untuk pengelolaan cloud server di Indonesia. LOGIQUE menawarkan one stop solution untuk perkembangan bisnis Anda di era digital.

Jadi, tunggu apa lagi? Silakan hubungi LOGIQUE sekarang juga. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts