E-Commerce di Era Covid-19

Setidaknya dalam satu dekade ke depan sejak 2020, kehidupan di dunia ini mungkin akan selalu dibagi menjadi dua, yakni kehidupan dunia sebelum pandemi covid-19 dan kehidupan setelah pandemi covid-19. Bukan untuk menjadi pihak yang pesimistis, tetapi perlu dicatat bahwa bahkan sampai saat ini pun kita tidak bisa memprediksikan kapan pandemi ini akan berakhir.

Adanya penanda dengan garis batas yakni Covid-19 ini merupakan agen perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari sudah tentu merupakan bagian dari cara pencegahan penularan Covid-19. Oleh karena itu, banyak sekali kegiatan esensial seperti bertemu tatap muka, pergi ke kantor dan sekolah, merupakan hal yang paling dihindari selama pandemi.

Salah satu yang berubah dan beradaptasi selama pandemi ini adalah E-Commerce. Secara singkat, E-commrce atau dalam bahasa Indonesia E-Niaga merupakan transaksi jual beli yang dilakukan secara online di internet. Transaksi ini bisa dilakukan melalui berbagai platform seperti handphone, komputer, atau tablet. Secara lebih spesifik, diksi E-Commerce saat ini lebih merujuk pada perusahaan Start Up dan media sosial yang menyediakan platform untuk jual beli, misalnya seperti eBay, Amazon, Alibaba, Taobao, dan banyak tak terhitung lainnya. Kali ini kami akan menyoroti perubahan dan tren-tren yang akan datang dari e-commerce di era covid-19.

Tren Produk Belanja E-Commerce di Era COVID-19

Selama enam hingga satu tahun terakhir Anda pasti selalu mempertimbangkan apakah Anda benar-benar butuh untuk pergi ke luar rumah untuk urusan-urusan tertentu? Adanya pembatasan sosial berskala besar yang digalangkan oleh pemerintah membuat kita semua menjadi sangat berhati-hati dalam bepergian dan berbelanja di pusat perbelanjaan retail offline.

Tanpa bisa dipungkiri covid-19 menciptakan peluang pasar bagi e-commerce untuk berkembang karena saat ini kebutuhan yang ada adalah berbelanja tanpa perlu keluar rumah. Hal ini mengakibatkan akan munculnya banyak penjual atau pengusaha yang akan beralih ke toko online. Saat ini, produk belanja utama masyarakat pun sudah mulai bergeser. Menurut hasil riset dari Nielsen, berirkut ini adalah tren perilaku konsumen di saat pandemi covid-19:

  • Proaktif membeli barang-barang penunjang kesehatan (membeli produk kesehatan dan kebugaran seperti suplemen dan sebagainya).
  • Manajemen kesehatan reaktif (membeli alat pelindung seperti masker dan pembersih tangan/hand sanitizer).
  • Persiapan untuk pantry (menimbun bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga).
  • Persiapan karantina (terjadinya kekurangan supply produk tertentu di pasar).
  • Membatasi kegiatan sosial (berbelanja offline lebih sedikit, dan beralih ke online).
  • Normal baru (kembali ke rutinitas harian).

Berikut ini merupakan daftar produk yang mengalami perubahan penjualan selama pandemi covid-19:

  1. Produk kesehatan dan keamanan.

Menurut data Nielsen, barang-barang produk kesehatan seperti masker dan peralatan medis lainnya naik lebih dari 300%.

  1. Barang yang Penjualannya Selalu Stabil

Produk yang penjualannya selalu stabil merupakan barang yang paling diincar karena semua orang berjaga-jaga untuk menyiapkan pasokan barang untuk persiapan karantina. Yang termasuk dalam kategori ini seperti susu, makanan ringan, dan buah yang tidak mudah membusuk. Penjualan barang-barang ini juga meningkat lebih dari 300%.

  1. Makanan dan Minuman

Saat ini bukan hanya angka penjualannya saja yang terus meningkat, tetapi yang menarik juga fakta bahwa terdapat perubahan perilaku konsumen dalam membeli makanan dan minuman. Sebagai cara untuk menghindari kerumunan dan menghemat waktu saat berada di pusat perbelanjaan atau restoran, banyak orang yang saat ini memilih opsi BOPIS (Buy-Online-Pay-In-Store atau Beli-Online-Jemput-di-Toko). Unduhan aplikasi seperti Shopee dan Gojek yang memungkinkan transaski ini terjadi telah meningkat.

  1. Streaming Digital

Produk lain yang mungkin tidak Anda kira sebelumnya adalah produk streaming digital seperti Netflix, Disney Hotstar+, HBO, dan sebagainya. Hal ini berbanding lurus dengan perubahan perilaku masyarakat yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga mereka membutuhkan hiburan dalam bentuk digital. Hampir seluruh jasa streaming digital besar mengalami peningkatan jumlah pelanggan selama kuartal pertama tahun 2020. Hal lain yang berpengaruh adalah ditutupnya bioskop untuk pemutaran film sehingga sudah ada banyak film yang akhirnya dirilis resmi melalui platform streaming digital.

  1. Fashion/Pakaian

Berbeda dengan jenis produk lainnya, lini produk fashion justru mengalami penurunan penjualan karena saat ini masyarakat lebih fokus dalam memenuhi kebutuhan mendasar sehari-hari dan mengesampingkan pakaian. Hal ini berdampak pada ditutupnya banyak ritel pakaian raksasa yang terpaksa untuk menutup toko offline di belahan dunia secara bersamaan. Penjualan pakaian secara online pun menurun.

  1. Barang Mewah

Jika masyarakat bahkan mengesampingkan pembelian produk fashion dan pakaian, maka penjualan barang-barang mengalami mimpi buruk. Selain industri yang terdampak buruk selama pandemi seperti tempat hiburan, tour and travel, dan restoran, industry barang mewah diprediksi Vogue Business mengalami kerugian sampai dengan 10 miliar dolar Amerika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *