Bincang SEO Bersama Reza Putra Part #1: Backlinks Sudah Tidak Penting Untuk SEO?

Pada tanggal 22 Desember yang lalu, tim LOGIQUE berkesempatan untuk melakukan interview dan berbincang langsung dengan salah satu praktisi SEO terkemuka di Indonesia yaitu Reza Putra. Dia adalah seorang profesional yang sudah lama berkecimpung di dunia SEO yaitu sejak tahun 2007, dan saat ini menempati posisi sebagai SEO Lead Tokopedia.

Sebagaimana kita ketahui, Tokopedia adalah perusahaan E-commerce tersukses yang ada di Indonesia. Dengan membawa misi untuk dapat mencapai pemerataan ekonomi secara digital, Tokopedia berhasil menciptakan lebih dari 2,99 juta lapangan pekerjaan serta membantu menggerakkan perekonomian daerah. Dalam mencapai kesuksesan tersebut, Tokopedia tentu didukung dengan kerjasama dari berbagai tim hebat yang ada di dalamnya, salah satunya adalah tim SEO.

Melalui berbagai pengalaman yang dimilikinya, Reza Putra sangat layak dikatakan sebagai seorang SEO specialist yang handal. Sebelum bergabung dengan Tokopedia, dia juga pernah menangani project-project SEO di beberapa perusahaan besar lainnya. 

Dalam sesi interview ini, LOGIQUE ingin mengetahui bagaimana pandangan Reza Putra tentang perkembangan SEO saat ini, serta apa saja praktik-praktik SEO yang baik untuk dilakukan oleh web bisnis berskala besar. Kami juga ingin mengetahui apa benar jika saat ini backlinks sudah tidak penting lagi dalam SEO? Ingin tahu apa jawaban Reza Putra? Simak hasil interview kami berikut ini!

Apa tantangan SEO saat ini, khususnya untuk web berskala besar?

Q: Apa yang menjadi faktor utama ketika Mas Reza mengoptimasi website atau bisnis dengan skala yang besar? 

Reza: Kalau kita berbicara SEO itu sebenarnya sama. Kalau diibaratkan dengan matematika ya rumusnya itu-itu aja, cuma perbedaannya ada di masalah yang kita hadapi, sama seperti SEO. Apa pun yang kita kerjakan, baik itu company profile, E-commerce, media, semi E-commerce, atau yang lainnya, sebenarnya secara teori itu sama. 

Namun perlu diperhatikan, ketika mengerjakan enterprise SEO, kita sudah tidak berbicara masalah optimasi landing page seperti pada company profile atau mungkin kita membuat sebuah website lalu kita katakan kategori ini kita optimize, ngga. Apa yang kita optimalkan itu grup / halaman, itu yang pertama. 

Kedua, pada dasarnya saya kurang suka cara optimasi SEO dengan menggunakan backlinks. Zaman dulu, di tahun 2007 praktik backlinks mungkin masih dapat dilakukan. Tapi sekarang sudah tahun 2020, sudah berbeda dari dulu. Sekarang Google pun sudah jauh lebih selektif.

Q: Mengenai Google Core Update yang terjadi pada tanggal 3 Desember yang lalu, hampir semua praktisi SEO mengeluh performa webnya menurun. Apa benar core update ini lebih banyak berdampak untuk artikel?

Reza: Sebenarnya bukan lebih ke artikel tetapi konten. Jadi di Google Core Update terbaru ini, Google sudah menjadi jauh lebih selektif ketika memilih halaman mana yang lebih berkualitas.

Kesalahan di masyarakat adalah, oke saya aiming kata kunci A, saya aiming kata kunci B, jadi halaman ini harus dapat untuk kata kunci ini, keyword density berapa %, LSI-nya harus ada ini itu. Itu sudah tidak berlaku. Ini 2020, dulu memang iya begitu, cuma sekarang Google sudah lebih pintar, jadi kita ngga bisa pakai approach seperti itu lagi.

Kelemahan dari algoritma Google zaman dulu, kalau ada “hal-hal tersebut” maka Google akan memilihnya. Tapi Google sekarang sudah mempunyai AI, dia sudah punya Thesaurus, dia sudah punya segala macam teknologi baru. Pertanyaannya, kenapa masyarakat masih pakai cara yang lama?

Bagaimana perkembangan SEO saat ini?

Q: Apa kondisi SEO saat ini memang sudah signifikan berubah? Apakah pendekatannya dapat dikatakan 180° berbeda dengan apa yang kebanyakan praktisi SEO lakukan? Bagaimana menurut mas Reza?

Reza: Sudah bukan 180° lagi, bahkan dapat dikatakan sudah berbeda dunia. 

SEO itu pertama kali saya pelajari tahun 2007 sampai 2020 ini. Dari zaman dahulu, SEO menjadi part of Digital Marketing. Menurut saya pribadi, SEO di tahun 2020 sudah bertindak sebagai sistem analis, dia sudah seperti produk.

Apa yang sudah saya lakukan, bahkan sebelum bergabung dengan Tokopedia, adalah  memfokuskan pada hal-hal yang jarang dibahas oleh orang lain di luar sana. Trik research kata kunci yang kompetisinya rendah, research kata kunci long tail dengan kompetisi rendah dan search volume besar, anchor text untuk backlink dimana saja, anchor textnya berapa % yang exact match berapa %, yang brand berapa %, yang naked URL berapa %, macam-macam deh pokoknya. Saya ngga pernah membahas hal-hal seperti itu.

Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak bekerja dan mempengaruhi SEO. Tapi yang mau saya katakan adalah, sampai kapan? Dari Google Core Update kemarin saja sudah banyak yang menjerit. Bagaimana nanti dengan update di tahun 2021, 2022, 2023, dan seterusnya. Apakah akan tetap menggunakan cara-cara yang dipraktikan di tahun 2012?

Bahkan saya pernah berdiskusi dengan praktisi-praktisi SEO dari UK & Jepang. Mereka sudah sangat maju. Waktu itu kami sudah membahas hal-hal tentang mapping, user, sudah berbicara sampai ke UI UX, padahal SEO loh yang kita bahas ini. Selama ini mereka sudah sangat technical.

Bagaimana trend SEO di tahun 2021?

Q:  Menurut mas Reza, bagaimana prediksi atau perkiraan mengenai trend SEO di tahun 2021? Ke arah mana perkembangan algoritma Google akan bergerak?

Reza: Sebenarnya, orang-orang yang biasanya mengamati algoritma, melihat bagaimana cara Google bekerja, itu biasanya praktisi blackhat. Mau tidak mau kita harus menelan bahwa hal itu adalah fakta. “Itu si Google mau ngapain lagi, nanti website saya runtuh ngga ya?”

Kalau kita terbiasa bekerja dengan jujur maka tidak perlu takut dengan update algoritma. Karena memang seperti inilah cara kerja pengusaha, seperti melaporkan pajak secara rutin, mengisi SPT, melaporkan pemasukan, dan ketika ada pemeriksaan pajak, ya periksa aja. Tapi kalau pengusaha yang mungkin sering menyembunyikan pajak, maka ketika akan dilakukan audit mereka mungkin akan ketakutan.

Sama seperti SEO, jika kita biasa melakukan hal-hal dengan benar, sesuai apa kata webmaster forum, guideline dari Google, maka kita tidak akan khawatir. Di sisi lain kita juga berusaha memenuhi kebutuhan user bukan mengejar ranking. Misalnya, kita ingin menyajikan layanan asuransi terbaik. Tentu tidak mungkin jika kita melakukan keyword stuffing kata asuransi sampai 20 kali di landing page. Katakanlah halaman tersebut kemudian bisa mendapatkan rangking, tapi user tentu tidak akan merasa nyaman ketika membacanya.

At the end user, at the end conversion, at the end transaction dan lain sebagainya, kalau kita bisa menyediakan sebuah halaman yang berkualitas, tentu user akan betah untuk membacanya. “Oh bener, asuransi terbaik itu isinya kaya gini, ada berbagai informasi lainnya”. Saya rasa, jika Google update sampai 1000 kali pun tidak akan jatuh posisinya. Karena kita memang memberikan informasi yang bagus.

Kita ikuti cara kerja Google. Kalau kita ingin menjual asuransi yang baik, maka sajikan landing page yang terbaik. Buktikan kita yang terbaik. Bukan membangun backlinks, bukan membuat PBN, bukan keyword stuffing, atau membuat artikel sampai 2000 kata.

User Experience penting dalam SEO!

Q: Jadi, cara untuk memaksimalkan SEO berarti kita harus memaksimalkan kepuasan user?

Reza:  Iya, benar, kepuasan user. Apa yang kita lakukan di sebuah perusahaan itu saling berhubungan. Contohnya seperti tim finance yang support untuk masalah gaji, mengatur keuangan, berhubungan juga dengan sales. Mengatur keuangannya bagaimana kalau tidak ada pemasukan dari sales?

Jadi tim sales akan mencari pemasukan, ketika ada pesanan dari klien kemudian akan ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan oleh masing-masing tim. Contohnya seperti tim teknis yang akan segera mengeksekusi pesanan, bagian account manager yang memanage project ke klien dan mendeliver, setelah itu baru klien akan bayar melalui invoice.

Jadi, semua harus saling berhubungan. Sama seperti website. Sebuah website juga harus berhubungan, tidak bisa SEO berjalan sendiri. Ketika kita sudah melakukan berbagai hal untuk optimasi, tapi tidak ada konversi yang dihasilkan, perusahaan tentu juga akan menjerit dengan perjalanan ini.

Jadi, seorang ahli SEO harus bisa memberikan masukan untuk sebuah website, seperti halaman yang berkualitas itu seperti apa. Ketika halaman yang disediakan sudah berkualitas, maka otomatis ranking akan menyusul. Dari rank tersebut kemudian klik menyusul. Ketika halaman banyak diklik dan orang-orang yang mengunjunginya merasa puas karena halamannya berkualitas, maka mereka akan berbelanja dari website tersebut. Entah itu belanja, sign up, atau mungkin membaca media artikelnya.

Tetapi kalau artikelnya jelek bagaimana? Berarti tim SEO juga akan bekerja sama dengan tim redaksi atau tim editor. Jelaskan mengenai permasalah yang ada di artikelnya. Jadi, kesimpulannya saya memposisikan SEO itu sebagai system analyst.

Kesimpulan

Dari proses interview yang kami lakukan bersama Reza Putra, dapat diketahui bahwa pada intinya SEO merupakan praktik-praktik yang dilakukan untuk meningkatkan user experience pada sebuah website. Apabila kepuasan pelanggan terhadap sebuah halaman website meningkat, maka nilai konversi yang diharapkan pun akan meningkat dengan lebih baik lagi. Selain itu, praktik-praktik SEO juga harus terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman, karena search engine, khususnya Google semakin hari akan semakin berkembang pula. Melalui teknologi terbaru yang dimilikinya search engine seperti Google mampu menilai dan menentukan dengan jauh lebih baik halaman mana yang berkualitas dan layak untuk mendapatkan peringkat tertinggi di halaman pencariannya.

Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pendapat Reza Putra terhadap SEO dan perkembangannya saat ini, ikuti terus updatenya pada artikel Bincang SEO Bersama Reza Putra Part #2 yang akan segera kami rilis. Pastinya akan ada banyak insight yang jauh lebih menarik yang dapat Anda peroleh. 

3 thoughts on “Bincang SEO Bersama Reza Putra Part #1: Backlinks Sudah Tidak Penting Untuk SEO?

  1. Sepakat kalau pada intinya adalah konten berkualitas yang memenuhi harapan pengunjung website saat dia Googling. Kalau pengunjung website puas dengan informasi yang kita sajikan, merasa pertanyaannya lewat Google terjawab tuntas, kebetulan dia punya blog, besar kemungkinan backlink sudah dengan sendirinya di tangan. Hanya saja kalau menurut saya, kalau mau sedikit ngegas, sengaja melakukan aktivitas “link building” misalnya, akan lebih membantu sih. Tapi dengan syarat kualitas konten memang sudah dimaksimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts