Panduan Scrum Part 1: Apa itu Scrum? (Pengertian, Teori, dan Nilai-nilainya)

Apa itu Scrum? Jika Anda adalah orang yang tertarik dengan berbagai hal yang berhubungan dengan teknologi, mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah ini.

Scrum memang banyak dipergunakan dalam pengembangan software. Meskipun demikian, Scrum sebenarnya dapat diterapkan untuk berbagai jenis kerja tim untuk pengembangan produk apa pun yang bersifat komplek. Itulah sebabnya mengapa kerangka kerja ini menjadi sangat populer saat ini.

Bagi orang-orang yang belum memahaminya, mungking akan beranggapan bahwa Scrum berisi hal-hal yang rumit. Namun jika ditelaah lebih dalam lagi, Scrum justru memberikan kemudahaan dalam manajemen suatu proyek.

Manajemen proyek melalui Scrum akan mengharuskan anggota timnya untuk saling berkolaborasi dan bekerjasama dengan sangat erat. Sama seperti istilah Scrum di dalam olahraga Rugby dimana para pemain akan berkumpul dalam suatu formasi yang terjalin erat yang disebut dengan Scrum.

Perlu Anda ketahui, Scrum dibentuk sejak awal tahun 1990-an oleh Jeff Sutherland dan Ken Schwaber untuk  membantu organisasi yang berjuang dengan proyek pengembangan yang kompleks. Sejak saat itu, kerangka kerja yang solid dan tangkas ini mulai banyak dipergunakan.

Di artikel kali ini, LOGIQUE akan membahas apa itu Scrum untuk Anda. Informasi yang kami sediakan berdasarkan Scrum Guide yang diperoleh dari web resminya yaitu www.scrumguides.org. Mari kita mempelajarinya bersama-sama!

Apa itu Scrum?

Scrum adalah kerangka kerja ringan yang membantu orang-orang, tim, ataupun organisasi untuk menghasilkan suatu nilai melalui solusi adaptif untuk masalah yang kompleks. Sederhananya, Scrum adalah kerangka kerja untuk kolaborasi tim yang efektif untuk mengelola produk yang kompleks.

Kerangka kerja ini membutuhkan Scrum Master yaitu servant-leader untuk tim dan bertanggung jawab untuk mendukung penggunaan Scrum dengan baik. Scrum master akan bertugas untuk menjaga atau memelihara environment di dalamnya dapat berjalan sesuai alurnya, yaitu :

  1. Product owner meminta pengerjaan untuk suatu masalah kompleks ke dalam bentuk Product Backlog.Product backlog adalah daftar fitur yang diprioritaskan, berisi deskripsi singkat dari semua fungsi yang diinginkan dalam suatu produk. 
  2. Tim Scrum mengubah pekerjaan tersebut untuk peningkatan nilai selama Sprint. Sprint adalah periode singkat yang dibatasi oleh waktu ketika tim menyelesaikan sejumlah pekerjaan.
  3. Tim Scrum dan para stakeholders akan memeriksa hasil pekerjaan dan menyesuaikannya kembali untuk Sprint berikutnya.
  4. Ulangi lagi

Penjelasan

Di dalam Scrum, sprint memegang peranan yang penting. Karena durasi sprint yang singkat, maka dalam pengembangan produk biasanya akan terdiri dari beberapa sprint. Jadi, pengembangan produk menggunakan Scrum dilakukan secara iteratif (berulang) dan inkremental (berkembang sedikit demi sedikit secara teratur).

Sprint diawali ketika seorang product owner yaitu seseorang yang memiliki wewenang untuk memaksimalkan nilai dari suatu produk bertemu dengan development teamm, dan memperkirakan Product Backlog mana saja yang akan dikerjakan selama satu sprint. Hasil dari sprint planning (Sprint Backlog) tersebut akan menghasilkan daftar pekerjaan yang telah disepakati oleh product owner dan dengan development team yang akan dikerjakan selama satu sprint.

Setelah Sprint Planning berakhir, development team akan mengelola dirinya sendiri untuk mengambil  tugas dari Sprint Backlog. Mereka akan melakukan Daily Scrum untuk menentukan apa yang dapat dikerjakan berdasarkan perkembangan sebelumnya serta menjelaskan apa yang menjadi hambatan mereka.  Selama proses pengembangan, mereka juga akan melakukan perbaikan terhadap item Product Backlog agar proses Sprint Planning berikutnya dapat berjalan lebih efektif.

Setelah itu, product owner akan mempresentasikan hasil pengembangan produk kepada para stakeholders untuk mendapatkan feedback atau dikenal dengan istilah Sprint Review. Feedback tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam Product Backlog untuk meningkatkan nilai dari produk yang dikembangkan. Selanjutnya, product owner dan development team akan mengadakan Sprint Retrospective yaitu saling bekerjasama untuk menentukan improvement apa yang akan implementasikan di Sprint berikutnya. 

Baca Juga: Sistem Informasi Manajemen : Pengertian, Fungsi, dan Contohnya

Teori Scrum

Setelah mengetahui apa itu Scrum, berikut teori-teori yang dipergunakannya. Scrum dibentuk berdasarkan empirisme dan pemikiran yang ramping. Empirisme dapat memastikan bahwa suatu pengetahuan berasal dari pengalaman dan pengambilan keputusan harus berdasarkan pada hal-hal yang sudah diamati sebelumnya. Selain itu dengan pemikiran yang ramping dapat membantu Anda untuk menghindari hal-hal yang tidak diperlukan sehingga Anda bisa tetap fokus pada hal-hal yang dianggap penting. 

Dari penjelasannya, dapat diketahui bahwa Scrum menggunakan pendekatan yang berulang serta bertahap. Hal tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan prediktabilitas dan mengendalikan risiko yang ditimbulkan.

Dalam pelaksanaanya, Scrum juga melibatkan empat formal events untuk melakukan inspeksi dan adaptasi, yaitu :

  • Sprint Planning
  • Daily Scrum
  • Sprint Review
  • Sprint Retrospective

Keempat events tersebut dapat bekerja karena mengimplementasikan tiga pilar empirisme yaitu transparansi, inspeksi dan adaptasi. Berikut penjelasan untuk masing-masing pilar.

Transparansi

Proses pengerjaan yang terjadi harus dapat dilihat oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab di dalamnya, yaitu pihak yang melakukan pekerjaan atau pihak yang menerima pekerjaan. 

Inspeksi 

Artefak Scrum (akan dibahas di artikel selanjutnya) serta progress menuju goals yang telah disepakati harus diperiksa (inspeksi) secara rutin untuk mendeteksi masalah atau hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan inspeksi secara rutin maka proses adaptasi dapat dilakukan dengan baik. 

Adaptasi

Ketika ditemukan suatu aspek yang menyimpang atau ketika produk yang dihasilkan tidak dapat diterima, maka adaptasi perlu dilakukan. Proses yang diterapkan atau bahan yang diproduksi harus disesuaikan kembali. Adaptasi harus bisa dilakukan secepat mungkin untuk meminimalisir lebih banyak penyimpangan yang mungkin terjadi.

Baca Juga: Tips Agar Pengembangan Perangkat Lunak Berjalan Efisien

Nilai-nilai Scrum

Keberhasilan tim dalam mempergunakan Scrum sebagai framework untuk pengembangan produk yang kompleks ditentukan pada lima nilai utama yaitu :

Komitmen

Dalam pengembangan produk yang kompleks, tim Scrum harus memiliki komitmen untuk dapat mencapai goals yang sudah ditentukan. Selain itu, anggota tim Scrum harus berkomitmen untuk saling bekerja sama sebagai satu kesatuan. Jika mampu diaplikasikan, nilai ini akan sangat berguna untuk membangun culture tim yang gesit.

Beberapa komitmen yang bisa dibuat oleh anggota tim Scrum seperti :

  • berkomitmen untuk dapat saling berkolaborasi dan bekerja sama
  • komitmen untuk dapat memenuhi deadline
  • mampu menjaga profesionalisme dan transparani
  • selalu memberikan improvement dari setiap proses pengerjaan produk
  • dan lain-lain

Fokus

Hal yang menjadi fokus utama dari para anggota tim scrum adalah pekerjaan yang ada di Srpint sehingga tim dapat menghasilkan kemajuan sebaik mungkin menuju goals yang ingin dicapai. Dengan tetap fokus, tim dapat menyelesaikan berbagai hal dengan cepat dan efisien.

Setiap anggota tim Scrum juga sebaiknya hanya fokus pada peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Dengan cara ini, tim dapat menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat dan efisien.

Selain itu, perlu untuk diingat bahwa Anda sudah membuat komitmen di awal, maka Anda harus tetap fokus pada komitmen tersebut.

Keterbukaan

Tim Scrum dan para stakeholders harus setuju untuk dapat saling terbuka mengenai pekerjaan atau tantangan yang dihadapi ketika mengerjakannya. Sebagai contoh, Product Backlog harus jelas bagi semua orang yang mengerjakan proyek atau meeting daily scrum yang terbuka sehingga semua anggota tim memiliki pemahaman yang sama.

Selain itu, tim Scrum harus terbuka untuk beberapa hal lain, seperti :

  • Berbagi informasi mengenai progress pekerjaan mereka.
  • Terbuka untuk mendiskusikan ide-ide baru.
  • Terbuka untuk perubahan yang tidak terduga dan segera beradaptasi terhadap perubahan tersebut.

Rasa Hormat

Anggota tim Scrum harus bisa menghormati satu sama lain agar menjadi orang yang kompeten, mandiri, dan dihormati oleh orang lain yang bekerja dengan mereka.

Tim Scrum terdiri dari orang-orang yang mengelola dirinya sendiri. Mereka dapat memutuskan bagaimana cara mereka bekerja serta memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu produk. Meskipun demikian, masing-masing anggota tim tetap harus menghormati pandangan, keterampilan, dan latar belakang pribadi dari anggota yang lain.

Ketika setiap anggota tim merasa dihormati dan dihargai, mereka dapat melakukan yang hal terbaik dan bekerja secara efisien. Mereka juga dapat dengan mudah menerima feedback, kritik, maupun saran yang membangun dari pihak lain dan menganggapnya sebagai kesempatan untuk berkembang.

Agar dapat memberikan rasa hormat, tim Scrum dapat memberlakukan setiap anggota secara equal. Selain itu, tim juga harus menghormati para pemangku kepentingan dengan cara menghargai pandangan dan umpan balik yang mereka berikan. 

Keberanian

Anggota tim Scrum harus memiliki keberanian untuk melakukan hal yang benar dalam mengatasi masalah yang sulit.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu pilar dalam kerangka kerja Scrum adalah adaptasi. Tim Scrum harus mampu mengelola dirinya sendiri, beradaptasi, dan mencoba pendekatan baru untuk melihat mana yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Untuk melakukan hal tersebut, diperlukan suatu keberanian. 

Jika dapat diaplikasikan dengan baik, maka nilai-nilai tersebut dapat digunakan sebagai suatu arahan sehingga tim mengetahui bagaimana ketika harus mengerjakan pekerjaan, melakukan tindakan, atau berperilaku. Ketika mengaplikasikan kerangka kerja Scrum dengan tetap memperhatikan kelima nilai tersebut, maka tiga pilar Scrum yaitu Transparansi, Inspeksi, dan Adaptasi juga dapat terwujud sehingga kepercayaan di dalam tim dapat terbangun.

LOGIQUE sendiri juga sudah menerapkan kerangka kerja Scrum untuk mengerjakan proyek-proyeknya. Hasilnya, kolaborasi antar anggota tim berjalan dengan baik serta delivery produk dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat untuk memenuhi kebutuhan klien. 

Setelah membaca panduan Scrum di atas, Anda sekarang dapat lebih memahami apa itu Scrum. Pada artikel selanjutnya, LOGIQUE akan mengulas jauh lebih dalam lagi mengenai panduan Scrum untuk Anda. Kami akan menginformasikan siapa saja yang berada di dalam Scrum Team beserta tanggung jawab dan perannya. Anda dapat membacanya pada artikel berikut :

Panduan Scrum Part 2 : Siapa Saja yang Menjadi Anggota Scrum Team ?

Jika Anda membutuhkan bantuan dalam pengembangan sistem baik itu website, PWA, atau pun aplikasi seluler, Anda dapat mempercayakannya kepada LOGIQUE. Silakan hubungi kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai layanan komprehensif yang kami berikan. Klik hubungi LOGIQUE !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts